Wednesday, August 24, 2011

Hargai Diri Kita Dengan Menghargai Tubuh Kita

Hargailah waktu istirahat kita. Istirahat bukanlah saat berhenti yang
tak menghasilkan produktivitas apa-apa. Atau sekedar waktu luang di
antara kesibukan. Istirahat adalah bergerak maju dengan nafas yang
teratur dan langkah yang ringan.

Jangan memacu diri kita dengan
kecepatan yang sama. Suatu saat kita akan melalui tikungan, tanjakan
atau curaman. Di situ kita perlu memindahkan persneling diri kita,
menurunkan kecepatan, meringankan kumparan. Saat itulah kita harus
menghirup nafas dalam-dalam, dan merasakan kesegaran baru.

Istirahat
diadakan bukan untuk melupakan tujuan, namun memberikan kesempatan
untuk memperoleh kesadaran akan diri kita, demi sebuah langkah baru,
penciptaan baru, pada jalan keberhasilan kita. Itulah maksud dari
rekreasi.

Tak salah memang, bila orang Inggris menyebut hari
Minggu sebagai Sunday, hari matahari. Dan, itu bukanlah hari libur untuk
melangkah, namun hari untuk menyadari bahwa ada matahari dalam hidup
kita.

Cahaya matahari adalah sumber energi yang menumbuhkan
kehidupan, dan juga menggugah kesadaran bahwa kita memiliki
bayang-bayang hitam di balik sinarnya.

Bila kita menjauhi
cahaya, kita berjalan mengikuti bayang-bayang hitam kita. Namun bila
kita berjalan menuju cahayanya, bayang-bayang itu tertinggal di
belakang.


________________________________________________________________
Hargailah Diri Kita Dengan Menghargai Tubuh Kita


Kita memiliki permata yang harus diletakkan di tempat terhormat, yaitu
harga diri kita. Letakkanlah harga diri kita pada tubuh yang terhormat.
Perlakukanlah diri kita seperti meletakkan lukisan di bawah cahaya lampu
terbaik.

Tubuh adalah anugerah. Hanya orang-orang yang berharga diri rendah saja yang mengabaikan dan menyia-nyiakan tubuhnya.

Di
dalam tubuh yang terhormat terdapat diri yang terhormat. Kita takkan
bisa memahat patung yang indah dari kayu lapuk. Kita takkan mampu
membangun tembok kokoh dari tanah humus.

** Bukan karena tubuh kita kuat kita menjadi terhormat, namun karena kita terhormatlah tubuh kita menjadi kuat

________________________________________________________________
Hanya Dalam Diam Kita Dapat Memperhatikan

Saat kita tak memiliki kata-kata yang perlu dibicarakan, diamlah. Cukup 
mudah untuk mengetahui kapan waktunya berbicara. Namun, mengetahui kapan
kita harus diam adalah hal yang jauh berbeda. Salah satu fungsi bibir
adalah untuk dikatupkan.


Bagaimana kita bisa memperhatikan dan
mendengarkan dengan lidah yang berkata-kata. Diamlah demi kejernihan
pandangan kita. Orang yang mampu diam di tengah keinginan untuk
berbicara mampu menemukan kesadaran dirinya.


Butiran mutiara
indah hanya bisa tercipta bila kerang mutiara mengatupkan bibirnya
rapat-rapat. Sekali ia membuka lebar-lebar cangkangnya, maka pasir dan
kotoran laut segera memenuhi mulutnya. Inilah ibarat, kekuatan kita
untuk diam.


Kebijakan seringkali tersimpan rapat dalam diamnya
para bijak. Untuk itu, kita perlu berusaha membukanya sekuat tenaga.
Bukankah pepatah mengatakan, "
Diam Adalah Emas".

________________________________________________________________
Daya Cipta Hadir Bila Kita Peka Pada Suara Alam

Dengan suara apakah kita memulai hari kita? Teriakan bahwa hari sudah
siang? Berita TV pagi yang menayangkan kegelisahan? Pekik radio tetangga
yang bersahut-sahutan?

Betapa banyak orang memulai harinya
dengan keriuhan. Padahal mereka tahu, sepanjang harinya mereka akan
mengalami keributan yang lebih ribut.

Lalu, dengan suara apakah
kita menutup hari kita? Omelan yang menyuruh kita tidur dan mematikan
lampu? Dialog TV yang membingungkan? Kentongan peronda bertalu-talu?
Betapa banyak orang menutup harinya dengan keriuhan pula.

Bertanyalah
pada diri sendiri, manakah yang lebih menentramkan hati, memulai dan
menutup hari dengan keriuhan atau ketenangan? Pilihlah ketenangan!
Bertemanlah dengan kesunyian. Akrabilah kesenyapan.

Bila kita
lebih suka berada dalam keriuhan, maka pilihlah keriuhan suara alam.
Suara air terjun yang bergemuruh jauh lebih menyehatkan pikiran dan jiwa
kita.

Demikian pula, suara semilir angin, hujan deras,
halilintar, deburan ombak, kicau burung, kukuruyuk ayam, gemerisik
pepohonan, kecipak ikan di kolam.

** Berilah waktu pada diri
kita untuk menyadari keberadaan kita di alam ini. Ini bukan cara untuk
meninggalkan kehidupan kita sehari-hari. Ini adalah cara untuk
memperkaya jiwa. Motivasi, inspirasi, daya cipta datang dari kepekaan
kita pada suara alam.

No comments:

Post a Comment